Senin, 08 Juni 2015
Arti Kode oli
Ketika kita akan mengganti oli mesin, tertulis dalam kemasan kode-kode yang telah ditentukan oleh SAE. Kode-kode tersebut memiliki arti khususnya mewakili nilai kekentalan dan grade yang cocok untuk applikasi pada kondisi operasi mesin tertentu. Pengertian tentang kode tsb. akan membantu penentuan jenis oli yang akan dipakai, misalnya SAE 5W-30. Jenis oli mesin ini sangat bervariasi dengan masing-masing memiliki kondisi penggunaan optimum untuk operasional tertentu. Demikian juga ada beberapa lembaga yang bergerak dalam penentuan grade oli ini yang bertugas mengatur klasifikasi oli, sehingga mudah untuk dimengerti dan cocok untuk pemakaian di daerah tsb. Lembaga seperti ini misalnya API (America Petroleum Institute), atau ILSAC (Internasional Lubricant Standardization and Approval Committee) dsb. Salah satu standarisasi yang banyak dipakai adalah standarisasi SAE. SAE 5W-30: Oli kelas ini ditujukan untuk pemakaian daerah dingin, mudah untuk cranking atau proses starter engine. Oli ini juga didesign memiliki potensi untuk melindungi elemen mesin dari wearing phenomena. Oli kelas ini cukup memiliki grade sekelas SJ atau SH yang ditentukan oleh API, juga mencukupi untuk kategori ILSAC GF-2 untuk driving mothode Gasoline engine Oils Test. SAE 5W-20: Oli Multigrade dengan proteksi starter pada suhu dingin, dan menunjang effisiensi bahan bakar. Oli kelas ini cukup memiliki grade sekelas SJ atau SH yang ditentukan oleh API, juga mencukupi untuk kategori ILSAC GF-2 untuk driving mothode Gasoline Engine Oils Test. Karena sifat keencerannya, oli jenis ini tidak semestinya dipakai kecuali apabila ada rekomendasi dari produsen mesin. Hal ini untuk menghindari wearing atau ausnya elemen mesin yang tidak cukup terproteksi dengan kekentalan oli kelas ini. SAE 10-30: Oli kelas ini memiliki kekentalan lebih pekat dari SAE 5W-30 untuk daerah dingin serta tetap memiliki potensi untuk melindungi elemen mesin. SAE 10W-40: Oli multigrade yang ditujukan untuk melindungi elemen mesin terhadap perubahan suhu udara segala musim. Bisanya oli kelas ini juga cukup memenuhi kategori untuk standarisasi SJ atau SH dari API, atau ILSAC GF-2 untuk driving mothode Gasoline Engine Oils Test. SAE 20W-50: Oli multigrade dengan tujuan untuk perlindungan mesin terhadap wearing phenomena, atau goresan terhadap elemen mesin. Didesign untuk pemakaian pada suhu mesin yang tinggi. Memiliki kemampuan kuat untuk membuat lapisan oli pada permukaan elemen mesin. Bisanya cukup memenuhi standarisasi dari kategori ILSAC GF-2 untuk driving mothode Gasoline Engine Oils Test. SAE 20w-50 Makna sesungguhnya : oli mesin yg masih mampu dipakai sampai kondisi suhu dingin -10 sd -15 C (kode 20w) dan pd suhu 150 c dg tk.kekentalan tertentu . Oli jenis ini relative kurang efisien dalm pemakain BBM namun sangat baik dlm perlindungan /perawatan mesin, khususnya utk kondisi jalan di Jakarta yg sering macet, jarang berjalan jauh ,polusi dan beban berat. Pd kondisi ini dikenal dg istilah “boundary lubrication”, dimana pada kondisi tsb. lapisan oli sangat tipis diantara celah mesin yg cenderung berpotensi terjadinya kontak antara logam dg logam. Oli jenis ini relative paling kecil nilai viskositas indeksnya (VI), diantara 3 jenis oli lainnya (minimal utk.oli mineral/semi sintetis 120, utk. sintetis 145) . Semakin banyak aditiv viscosity index improver ,semakin sensitif oli /kurang baik buat mesin motor -utamanya terhadap stress di gear. VI= ukuran kemampuan suatu oli mesin dalam menjaga kestabilan kekentalan oli mesin dalam rentang suhu dingan sampai tinggi. Semakin tinggi VI semakin baik kestabilan kekentalannya. Utk oli mobil, VI tinggi akan sangat baik dimesin.. Utk motor bisa sebaliknya. SAE 15w-50 Makna sesungguhnya : oli mesin yg masih mampu dipakai sampai kondisi suhu dingin (minus) -15 sd -20 C (kode 15w) dan suhu 150 c dg tk.kekentalan tertentu . Jenis oli relative sama dg SAE20w50.Sedikit yg membedakan adalah sedikit lebih encer dan nilai VI lebih tinggi dari 20w50. (minimal utk..oli mineral 130, utk. sintetis 150) Semakin tinggi nilai VI artinya adlah semakin banyak pemakaian aditif peningkat angka VI. Utk motor hal ini sangat riskan. Aditif ini relative sensitif digunakan utk motor yg menyatukan oli mesin dan gigi (wet clutch).Artinya oli jenis ini relative lebih mudah berubah kekentalannya dibandingkan 20w50. SAE 10w-40 Makna sesungguhnya : oli mesin yg masih mampu dipakai sampai kondisi suhu dingin -20 sd -25 C (kode 10w) dan suhu 150 C dg tk.kekentalan tertentu . Jenis Oli yg relative paling encer diantaranya ke3 jenis oli lainnya. Oli ini relative paling irit BBM, namun kurang baik dalam perlindungan mesin .Terutama pada kondisi jalan sering macet dan beban berat.(mis.sering dipake boncengan) Relatif sama dg SAE 15w50 , dalam hal pemakaian aditif peningkat angka VI. (minimal utk.oli mineral 130, utk. sintetis 150) Apakah berarti paling bagus?Belum tentu …!Semakin banyak kandungan aditif peningkat angka VI , semakin besar kemungkinan peluang pecahnya aditif VI-nya dan berubah kekentalannya. Ukuran perubahan kekentalan oli biasanya dipakai batasan sampai 25-30% dari kekentalan awal /oli baru. Agak sulit memang indikatornya soalnya Cuma lab.yg bisa memastikan hal ini. Kalaupun Anda ingin tetap memakai oli jenis ini, saran saya , perhatikan jarak pergantian olinya lebih awal. Kalau Anda merasa suara mesin sdh agak berbeda sedikit aja..cepet2 ganti dah.. SAE 15w-40 Makna sesungguhnya : oli mesin yg masih mampu dipakai sampai kondisi suhu dingin -15 sd -20 C (kode 15w) dan suhu 150 C dg tk.kekentalan tertentu . Nilai VI ,minimal utk.oli mineral 125, utk. sintetis 145. Hasil pengujian di motor sebenarnya menunjukkan oli jenis ini yg paling pas. Oli jenis ini relative paling stabil kekentalannya dibandingkan yg lainnya. Masalhnya oli jens ini jarang diaplikasikan utk motor. Biasanya jenis SAE ini, dipakai utk kendaraan jenis mesin disel, yg membutuhkan kestabilan kekekntalan dalam jarak jauh dan kondisi ekstrim pada mesin disel. sebagai tambahan aditif Vi adalah seny.kimia kopolimer -rantai panjang- yg mampu beradaptasi pd suhu rendah dan tinggi ttpi sensitif thd... stress di gear.. SAE 5W-30 Oli kelas ini ditujukan untuk pemakaian daerah dingin, mudah untuk cranking atau proses starter engine. Oli ini juga didesign memiliki potensi untuk melindungi elemen mesin dari wearing phenomena. Oli kelas ini cukup memiliki grade sekelas SJ atau SH yang ditentukan oleh API, juga mencukupi untuk kategori ILSAC GF-2 untuk driving mothode Gasoline Engine Oils Test. SAE 5W-20 Oli Multigrade dengan proteksi starter pada suhu dingin, dan menunjang effisiensi bahan bakar. Oli kelas ini cukup memiliki grade sekelas SJ atau SH yang ditentukan oleh API, juga mencukupi untuk kategori ILSAC GF-2 untuk driving mothode Gasoline Engine Oils Test. Karena sifat keencerannya, oli jenis ini tidak semestinya dipakai kecuali apabila ada rekomendasi dari produsen mesin. Hal ini untuk menghindari wearing atau ausnya elemen mesin yang tidak cukup terproteksi dengan kekentalan oli kelas ini. SAE 10w-30 Oli kelas ini memiliki kekentalan lebih pekat dari SAE 5W-30 untuk daerah dingin serta tetap memiliki potensi untuk melindungi elemen mesin. SAE 10W-40 Oli multigrade yang ditujukan untuk melindungi elemen mesin terhadap perubahan suhu udara segala musim. Bisanya oli kelas ini juga cukup memenuhi kategori untuk standarisasi SJ atau SH dari API, atau ILSAC GF-2 untuk driving mothode Gasoline Engine Oils Test. SAE 20W-50 Oli multigrade dengan tujuan untuk perlindungan mesin terhadap wearing phenomena, atau goresan terhadap elemen mesin. Didesign untuk pemakaian pada suhu mesin yang tinggi. Memiliki kemampuan kuat untuk membuat lapisan oli pada permukaan elemen mesin. Bisanya cukup memenuhi standarisasi dari kategori ILSAC GF-2 untuk driving mothode Gasoline Engine Oils Test.
Selasa, 17 Maret 2015
Cara Membuat Powerbank sederhana
bertemu kembali dengan saya rahmat galih, pada kesempatan ini saya ingin berbagi pengetahuan cara membuat power bank sendiri dengan mudah dan siapapun juga bisa,, apa ithu power bank powerbang adalah charger portable dimana saat ini smartphone2 kita cepat habis batrainya dan tidak ada sumber listrik pln mka kita bisa menggunakan powerbank ini ya langsung saja pada pkok pembahasan kita yaitu cara membuat powerbank sederhana :
Skema Rangkaian

Bahan bahan yang diperlukan
1. IC LM 7805

2. port usb

3. kabel charger hp/data

4. Switch

5. batrai 9 volt

6. Wadah kaset tape

pertama tama pasang IC lm 7805 pada pcb dan port usb seperti gambar berikut

setelah ithu ambil kabel positiv batrai ke saklar dan ujung kaki saklar yang satunya di hubungkan pada kaki no 1 kemudian ambil negatif batrai dan dihubungkan ke kaki no 2 dan ke port usb negatif, kaki no 3 lm 7805 dihubungkan dengan positif port usb, kalo ingin menambahkan indikator bisa menambahkan lampu led , setelah semuanya disolder tinggal dipasang pada wadah disini saya meenggunakan wadah kaset tape bekas, kurang lebih jadinya seperti ini


Terakhir seperti ini

power bank buatan sendiri sudah bisa digunakan apabila ada kesalahan mohon pembetulannya karena kita sama sama belajar . :)
Senin, 16 Maret 2015
Sepuluh Macam Sensor Pada Sistem EFI
Assalamualaikum Wr. WB
bertemu kembali dengan saya rahmat galih pada kesempatan ini saya ingin membahas macam macam sensor EFI (Electrical Fuel Injection) Pada mobil-mobil keluaran pabrikan sekarang dimana dengan sistem tersebut banyak sekali sensor-sensor sebagai tempat inputan data ke Otak Mesin (ECU – Electrical Control Unit).
Berikut nama-nama sensor tersebut :
1.Throtle Position Sensor ( TPS ), adalah sensor yang
digunakan untuk mengetahui posisi pedal gas dalam keadaan tertekan atau bebas.
Jika ditekan/digas maka valuenya besar dan jika tidak ditekan valuenya kecil.
2.Manipold Absolute Pressure ( MAP ), sensor yang digunakan
untuk mengetahui kondisi kevacuuman intake manipold. Sensor ini akan
mengeluarkan pulsa tegangan besar jika kevacuuman intake manipold berkurang (
pedal gas diinjak ) atau sebaliknya.
3.Air Flow Sensor ( AFS ), adalah sensor yang digunakan
untuk mengetahui banyak sedikitnya udara yang akan masuk ke dalam intake
manipold. Biasanya sensor ini dipasang sesudah filter udara dan akan memberikan
pulsa tegangan semakin besar jika udara yang melewatinya semakin banyak atau
sebaliknya. Sensor ini ada yang meneybutnya AFM ( Air flow meter ) atau juga
MAF ( Mass Air Flow ).
4.Intake Air Temperature Sensor ( IAT ), adalah sensor yang
digunakan untuk mengetahui suhu udara masuk ke intake manipold, semakin dingin
suhu udara masuk maka akan semakin besar pulsa tegangan yang dikirimkan ke ECU,
sehingga supllai bensin ke injector juga semakin besar.
5.Idle Air Control ( IAC ), adalah part yang
mendeteksi/mengendalikan suplai udara ke intake manipold pada saat putaran idle
( langsam ). Sensor ini bisa beerupa solenoid, motor listrik atau bekerja
sesuai dengan suhu air pendingin. Dibeberapa sistem kendaraan sering disebut
Idle Speed Control ( ISC ) atau juga Idle Step Motor.
6.Injector, adalah perangkat electronic yang diperintah oleh
ECU untuk membuka /menutup katup electronic sehingga bensin bisa menyemprot ke
silinder.
7.Crankshaft
Position Sensor ( CKP ), sensor yang mendeteksi adanya putaran mesin. Jika
sensor ini dipasang
dekat dengan poros nok/katup, disebut Camshaft Position
Sensor ( CMP ). Kedua sensor tersebut disamping
berfungsi untuk mengetahui
adanya putaran mesin juga berfungsi untuk mengendalikan sistem pengapian mesin
tersebut.
8.Coolant
Temperature Sensor ( CTS ) atau Water Temperature Sensor (WTS) adalah sensor
untuk mengetahui kondisi suhu air pendingin. Semakin dingin suhu air pendingin
maka semakin banyak bensin yang disemprotkan ke silinder.
9. Top Dead
Center Sensor ( TDC ) adalah sensor yang digunakan untuk mengetahui titik mati
atas silinder nomor satu. Hal ini biasanya digunakan untuk menentukan firing
order ( FO ).
Langganan:
Postingan (Atom)